11/10/2026
WhatsApp Image 2026-10-10 at 14.24.14 (1)

Suasana Penyematan Selendang bagi Calon Wisudawan dan Wisudawati Program Doktor dan Magister Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti TA 2025/2026.

JAKARTA — Perjalanan menempuh pendidikan magister dan doktor bukan semata-mata tentang meraih gelar akademik. Di baliknya, ada ketekunan, pengorbanan, dan tanggung jawab untuk membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang kuliah agar memberikan manfaat bagi masyarakat. Pesan itu mengemuka dalam acara Penyematan Selendang Akademik Program Magister dan Doktor Pariwisata Institut Pariwisata (IP) Trisakti Tahun Ajaran 2025/2026 yang berlangsung di RA Suites Artotel, Jakarta Selatan, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Suasana Penyematan Selendang bagi Calon Wisudawan dan Wisudawati Program Doktor dan Magister Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti TA 2025/2026.

Rektor Institut Pariwisata Trisakti Fetty Asmaniati mengatakan, penyematan selendang akademik bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan bentuk penghargaan atas perjalanan panjang yang telah ditempuh para calon wisudawan. “Penyematan selendang akademik pada hari ini bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan simbol penghargaan atas perjalanan akademik yang telah ditempuh, kerja keras yang telah diperjuangkan, serta komitmen untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Fetty.

Rektor IP Trisakti Fetty Asmaniati tengah memberikan sambutan.

Fetty pun menyampaikan apresiasi kepada keluarga, dosen pembimbing, tenaga kependidikan, serta mitra industri yang mendukung perjalanan akademik para calon wisudawan. Fetty juga mengucapkan terima kasih kepada mitra pendukung kegiatan, yakni RA Suites Simatupang, InJourney, dan Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI).

 

Dalam acara tersebut, sebanyak 88 dari 102 calon wisudawan Program Magister Pariwisata hadir. Adapun seluruh calon wisudawan Program Doktor Pariwisata, yang berjumlah 18 orang, mengikuti kegiatan tersebut.

Fetty mengatakan, IP Trisakti telah melahirkan 1.200 alumni Program Magister Pariwisata dan 51 alumni Program Doktor Pariwisata. Jumlah tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mendukung perkembangan industri pariwisata sekaligus pengembangan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, latar belakang profesi para calon wisudawan menunjukkan bahwa pendidikan pariwisata tidak terbatas pada bidang perhotelan dan perjalanan wisata. Ilmu pariwisata juga dibutuhkan dalam pengelolaan destinasi, pemerintahan, pendidikan tinggi, transportasi, hingga berbagai bidang usaha lainnya.

Para calon wisudawan Program Magister Pariwisata berasal dari beragam institusi perhotelan dan hospitality, antara lain Artotel Group, Sheraton Grand Jakarta Gandaria City, The Dharmawangsa Jakarta, The St. Regis Bali Resort, Swissôtel Living Mega Kuningan, Sheraton Bandung Hotel & Towers, Four Points by Sheraton Bandung, serta jaringan Accor Hotels.

Ada pula profesional dari RA Suites Simatupang Jakarta, Hotel Ciputra Jakarta, Swiss-Belresidences Kalibata Jakarta, Mercure Jakarta Simatupang, Quest Hotel Darmo Surabaya by Aston, Aruna Senggigi Resort & Convention, Aston Batam Hotel & Residence, dan sejumlah hotel serta pengelola hospitality lainnya.

Keterlibatan praktisi dari sektor kuliner dan pendidikan tata boga, seperti Joëlle Restaurant dan Indonesia Patisserie School, memperlihatkan hubungan erat antara pariwisata, industri makanan dan minuman, serta pengembangan pengalaman wisata.

Sementara itu, dari sektor perjalanan wisata dan pengelolaan usaha pariwisata, para calon wisudawan berasal dari PT Pratama Wisata Lintasnusa, PT Trisay Pesona Wisata, dan Batamasya Travel.

Keragaman profesi juga terlihat pada calon wisudawan yang berasal dari Kementerian Sekretariat Negara, Universitas Dharma Andalas, Universitas Andalas, Badan Pengusahaan Batam, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Dubai, PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney), PT Jantra Grupo Indonesia, WECONNECT013, dan Wortheat.BDL.

Bagi Fetty, keberagaman latar belakang tersebut menunjukkan bahwa penguasaan ilmu pariwisata dapat menjadi bekal untuk mengembangkan berbagai sektor yang saling berkaitan. Pariwisata membutuhkan bukan hanya tenaga profesional yang mampu memberikan pelayanan, tetapi juga sumber daya manusia yang memahami tata kelola, kebijakan, riset, dan pengembangan usaha.

Gelar akademik bukan garis akhir

Wakil Rektor I Institut Pariwisata Trisakti, Agus Riyadi, menegaskan bahwa capaian akademik pada jenjang magister dan doktor harus diikuti dengan komitmen untuk terus belajar dan menghasilkan pemikiran yang berguna bagi masyarakat. “Selendang ini menjadi penanda bahwa Saudara telah melalui perjalanan intelektual yang penuh tantangan, sekaligus menjadi pengingat akan tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Agus.

Wakil Rektor I IP Trisakti Agus Riyadi tengah memberikan sambutan.

Ia mengatakan, pendidikan pascasarjana menuntut komitmen, kedisiplinan, ketekunan, serta kesungguhan dalam melakukan penelitian dan menghasilkan inovasi. Karena itu, keberhasilan akademik tidak semestinya berhenti pada pencapaian indeks prestasi atau gelar yang disandang.

Dalam kesempatan tersebut, IP Trisakti juga memberikan apresiasi kepada tiga mahasiswa yang ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dan berprestasi melalui surat keputusan rektor. Mereka adalah Muhammad Rahmad, Janitra Fullaroa, dan Eka Mariyanti. Ketiganya meraih indeks prestasi kumulatif 4,00 dengan predikat: Dengan Pujian.

Agus berharap prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi calon wisudawan lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan menjaga konsistensi dalam menuntut ilmu.

Lebih jauh, ia menilai tantangan sektor pariwisata saat ini semakin kompleks. Pengelolaan destinasi dan pelayanan yang baik perlu ditopang oleh riset yang kuat, perumusan kebijakan yang tepat, pemanfaatan teknologi, serta komitmen terhadap keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. “Para lulusan Magister dan Doktor Pariwisata memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan. Saudara diharapkan mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan praktik nyata, menghadirkan gagasan yang solutif, serta berkontribusi dalam membangun sektor pariwisata Indonesia yang semakin berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Agus.

Pesan tersebut menempatkan lulusan pascasarjana bukan hanya sebagai penerima manfaat pendidikan, melainkan juga sebagai pihak yang diharapkan mampu membawa perubahan di lingkungan kerja, lembaga, dan masyarakat.

Pendidikan sebagai proses untuk terus bertumbuh

Makna pendidikan sebagai perjalanan yang tidak berhenti pada kelulusan juga disampaikan para calon wisudawan. Ikhwan, mahasiswa Program Doktor Pariwisata IP Trisakti, menyampaikan apresiasi kepada institusi dan para pendidik yang mendampinginya selama kurang lebih tiga tahun menempuh pendidikan.

Saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada seluruh tenaga pendidik, promotor, dan kopromotor yang telah mendukung proses akademik kami semua. Semoga ilmu yang kami peroleh dapat berkontribusi terhadap dunia pariwisata di Indonesia,” kata Ikhwan.

Sementara itu, Indah Preastuti, calon wisudawan Program Magister Pariwisata, memaknai penyematan selendang akademik sebagai penanda selesainya satu tahap perjalanan yang sarat pembelajaran. Baginya, pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan gelar, tetapi juga perubahan cara berpikir dan dorongan untuk terus mengembangkan diri. “Pengetahuan itu tidak dibatasi. Pendidikan bukan hanya memperoleh gelar, tetapi pendidikan mengubah cara berpikir. Jangan berhenti untuk tumbuh. Bagi saya, gelar yang diperoleh membawa tanggung jawab untuk terus bertumbuh, memberi manfaat, dan berkontribusi bagi kemajuan pariwisata Indonesia,” ujar Indah bersemangat.

Pandangan tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan pimpinan IP Trisakti kepada para calon wisudawan. Ilmu yang diperoleh selama pendidikan pascasarjana diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi menjadi modal untuk memperbaiki praktik profesional, memperkuat pengembangan pengetahuan, dan menghadirkan solusi bagi tantangan industri pariwisata.

Fetty juga mengingatkan para calon wisudawan agar terus menjaga nama baik almamater dan menjadi pribadi yang berprestasi serta bermanfaat bagi banyak orang. “Gelar akademik bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas,” pesan Fetty.

Ia berharap para lulusan dapat ikut menjaga eksistensi IP Trisakti melalui kiprah profesional dan kontribusi nyata di bidang masing-masing. Dengan demikian, keberhasilan alumni tidak hanya tercermin dari pencapaian karier, tetapi juga dari manfaat yang dapat mereka berikan kepada masyarakat dan perkembangan pariwisata nasional.

Redaksi