15/10/2026
WhatsApp Image 2026-10-14 at 08.43.01

Wapres Gibran hadiri wisuda Institut Pariwisata Trisakti ke-57 (ist).

Jakarta, Liputama.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah pariwisata Indonesia. Keindahan alam dan kekayaan budaya, menurut dia, perlu diterjemahkan menjadi peluang ekonomi, lapangan kerja berkualitas, serta kesejahteraan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar destinasi wisata.

Pesan itu disampaikan Gibran saat menghadiri Wisuda ke-57 Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti) Tahun Akademik 2025/2026 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026). Dalam acara tersebut, sebanyak 669 lulusan dari program doktor, magister, sarjana, dan sarjana terapan dikukuhkan. “Perlu kita pikirkan saat ini adalah bagaimana teknologi dapat menciptakan nilai tambah bagi pariwisata kita, bagaimana teknologi dapat meningkatkan manfaat langsung bagi masyarakat, bagaimana teknologi dapat membuat keindahan Indonesia ditemukan dunia. Kita ingin menciptakan high quality tourism,” ujar Gibran dalam sambutannya yang bertajuk Transformasi Pariwisata di Era Teknologi: Sinergi Pemerintah dan Perguruan Tinggi Menuju Indonesia yang Berdaya Saing.

Wapres Gibran Hadiri Wisuda IP Trisakti ke-57 (ist).

Menurut Gibran, daya tarik alam dan budaya saja tidak cukup untuk menjadikan pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Indonesia perlu memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk memperluas jangkauan promosi, meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan, serta memastikan aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Persoalan penting lainnya adalah memastikan pertumbuhan industri pariwisata tidak membuat masyarakat lokal tersisih dari kegiatan ekonomi di wilayahnya sendiri. Sebaliknya, masyarakat perlu dilibatkan dalam rantai pasok, penyediaan jasa, dan pengembangan produk wisata.

Gibran mencontohkan praktik yang diterapkan Hotel Plataran Bromo. Hotel tersebut menjalin kerja sama dengan petani setempat sebagai pemasok bahan baku restoran, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai penyedia jasa wisata jip Gunung Bromo, serta masyarakat adat Tengger melalui kegiatan wisata edukasi. “Saya mengapresiasi bagaimana mereka menjalin kerja sama dengan petani sekitar sebagai supplier bahan baku restoran, UMKM sekitar sebagai vendor wisata Jeep Gunung Bromo, masyarakat adat sebagai wisata edukasi mengenal Suku Tengger, sehingga kehadiran korporasi besar bukan menggantikan, bukan menggerus, tapi justru meningkatkan kapasitas usaha masyarakat terkait promosi,” ungkapnya.

Contoh tersebut menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata. Kehadiran pelaku usaha berskala besar, dalam pendekatan itu, diharapkan membuka pasar bagi produk lokal dan memperluas kesempatan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi.

Pariwisata sebagai kekuatan diplomasi budaya

Selain pemanfaatan teknologi dan pemberdayaan masyarakat, Gibran menyoroti pentingnya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Menurut dia, pariwisata dapat berjalan beriringan dengan musik dan industri kreatif untuk memperluas daya tarik Indonesia di mata masyarakat internasional.

Ia menyinggung sejumlah karya musisi Indonesia yang mendapat perhatian di luar negeri, termasuk lagu Tulus berjudul Teh Hijau yang disebut populer di Malaysia, grup vokal No-Na yang meraih posisi puncak di salah satu platform musik Korea Selatan, serta penyanyi Silet Open Up yang karyanya masuk nominasi lagu terbaik Asia di Jepang.

Fenomena tersebut, menurut Gibran, menunjukkan bahwa budaya dan kreativitas dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan Indonesia melampaui batas geografis. Dalam konteks hubungan antarbangsa, pariwisata dan industri kreatif merupakan bagian dari soft power, yakni kemampuan suatu negara membangun daya tarik melalui budaya, nilai, dan kreativitasnya. “Pariwisata merupakan salah satu instrumen penting dalam soft power Indonesia. Soft power adalah kekuatan suatu bangsa untuk membuatnya dicintai dunia,” kata Gibran.

IP Trisakti luluskan 669 wisudawan

Kehadiran Wakil Presiden dalam wisuda tersebut menyoroti hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan pengembangan sektor pariwisata. Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan dengan bekal akademik, tetapi juga tenaga profesional yang mampu mengikuti perubahan teknologi, memahami kebutuhan industri, dan menciptakan inovasi.

Rektor IP Trisakti Fetty Asmaniati mengatakan, lulusan dari berbagai jenjang pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menerapkan ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama studi serta berkontribusi bagi pengembangan industri pariwisata Indonesia. “Para lulusan Institut Pariwisata Trisakti berasal dari jenjang pendidikan dan bidang keahlian yang beragam, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi insan profesional yang berintegritas, adaptif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pariwisata Indonesia,” ujar Fetty.

Rektor IP Trisakti Fetty Asmaniati memberikan sambutannya.

Dari total 669 wisudawan, sebanyak 18 orang merupakan lulusan Program Doktor Pariwisata, 102 lulusan Program Magister Pariwisata, dan 181 lulusan Program Sarjana Pariwisata. Adapun Program Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan meluluskan 306 orang, sedangkan Program Sarjana Terapan Usaha Perjalanan Wisata meluluskan 32 orang.

Fetty menekankan bahwa pengembangan sumber daya manusia pariwisata membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, dan masyarakat. Keterhubungan tersebut diperlukan agar pendidikan yang diselenggarakan tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja. “Pendidikan tinggi pariwisata tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pariwisata Indonesia yang semakin kuat dan berdaya saing,” katanya.

Wapres Gibran hadiri wisuda Institut Pariwisata Trisakti ke-57 (ist).

Menurut Fetty, IP Trisakti, yang berdiri sejak 1969, terus memperkuat mutu akademik, kompetensi lulusan, serta kerja sama dengan industri dan perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Sidang Terbuka Senat Akademik ini turut mengundang sejumlah pejabat pemerintah, pimpinan Yayasan Trisakti, pimpinan perguruan tinggi di lingkungan Yayasan Trisakti, serta perwakilan industri dan asosiasi mitra kerja sama Institut Pariwisata Trisakti.

Di antara tamu undangan tersebut adalah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.; Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, S.E.; Kepala Layanan Lembaga Pendidikan Tinggi Wilayah III, Dr. Henri Togar Tambunan, S.E.; serta pimpinan Yayasan Trisakti dan perguruan tinggi di bawah naungannya.

Wapres Gibran di acara Wisuda IP Trisakti ke-57.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam pengembangan pendidikan tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

 

Prestasi akademik dan kompetensi industri

Dalam wisuda tahun akademik ini, IP Trisakti juga memberikan penghargaan kepada lulusan dengan prestasi akademik dan nonakademik. Berikut daftar wisudawan terbaik bidang akademik berdasarkan laporan akademik wisuda:

No. Nama Program Studi IPK
1 Muhammad Rahmad S3 Pariwisata 4,00
2 Janitra Fullaroa Salsabil S2 Pariwisata 4,00
3 Eka Mariyanti S2 Pariwisata 4,00
4 Najwa Ayumna Shalih S1 Pariwisata 3,99
5 Dewanty Nathalie Andersen S.Tr. Pengelolaan Perhotelan 3,99
6 Tesalonika Elia Cansa S.Tr. Pengelolaan Perhotelan, Program 2 Negara 3,95
7 Richard Erick Song S.Tr. Pengelolaan Perhotelan, Program 3 Negara 3,94
8 Theresia Irene S.Tr. Usaha Perjalanan Wisata 3,99

 

Capaian tersebut menunjukkan dedikasi para lulusan dalam menjaga kualitas akademik di setiap jenjang pendidikan. Perolehan IPK yang tinggi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan mencapai prestasi terbaik.

Wisuda ke-57 Institut Pariwisata Trisakti.

Selain bidang akademik, Institut Pariwisata Trisakti juga memberikan penghargaan kepada wisudawan berprestasi nonakademik, yaitu:

  • Program Sarjana Pariwisata: Bunga Nadyaputri, Igras Vigran Antonio Sitanggang, dan Muhammad Inas Nismara.
  • Program Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan: Risyad Tanzila Kusdar mawan, Fasina Anjali, dan Wisnu Achmad Tulloh.
  • Program Sarjana Terapan Usaha Perjalanan Wisata: Marinda Divka Safira dan Ine Ravianimoulin.

Penghargaan nonakademik merupakan bentuk pengakuan atas pencapaian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Prestasi tersebut mencerminkan pentingnya pengembangan keterampilan, kreativitas, kepemimpinan, dan partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai kegiatan kompetitif.

Selain menghasilkan lulusan dengan capaian akademik yang membanggakan, Institut Pariwisata Trisakti terus mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kompetisi nasional maupun internasional.

Dalam laporan akademik wisuda, sejumlah prestasi mahasiswa tercatat dalam berbagai bidang, antara lain kompetisi keterampilan perhotelan, pelayanan restoran, kuliner, kewirausahaan, seni, dan olahraga.

Suasana Wisuda ke 57 IP Trisakti.

Pada ajang WorldSkills ASEAN Competition 2026, mahasiswa Institut Pariwisata Trisakti meraih medali perunggu pada kategori Hotel Reception, sedangkan pada WorldSkills ASEAN Competition 2026 Hotel Reception & Restaurant Service. Prestasi lainnya meliputi keberhasilan mahasiswa dalam kompetisi kuliner internasional, termasuk Thailand United Chef Challenge 2025 dan The International 7th La Cuisine Competition.

Di tingkat nasional, mahasiswa juga menorehkan prestasi dalam kompetisi keterampilan perhotelan, fotografi, musik, serta olahraga. Berbagai pencapaian ini menjadi bukti pentingnya pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan praktik dan pengalaman kompetitif.

Capaian mahasiswa tersebut sejalan dengan kebutuhan industri pariwisata dan hospitality yang menuntut tenaga profesional dengan keterampilan teknis, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, serta kesiapan menghadapi persaingan global.

Dalam laporan akademiknya, Institut Pariwisata Trisakti juga menampilkan berbagai program pembelajaran, kerja sama industri, kuliah tamu internasional, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari pengembangan kualitas pendidikan.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui kombinasi perkuliahan di kelas, praktik, kunjungan industri, serta kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi dan akademisi. Pendekatan tersebut bertujuan memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat kesiapan mereka memasuki dunia kerja.

Dari sisi akreditasi, laporan akademik mencatat bahwa Program Sarjana Pariwisata, Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan, dan Sarjana Terapan Usaha Perjalanan Wisata memperoleh peringkat Unggul. Sementara itu, Program Doktor Pariwisata dan Magister Pariwisatamemperoleh peringkat Baik Sekali. Program Sarjana Bisnis Digital dan Sarjana Kewirausahaan juga tercatat memperoleh peringkat Baik Sekali.

Laporan tersebut turut menampilkan rekam jejak alumni yang berkarier di dalam dan luar negeri, termasuk pada perusahaan perhotelan internasional, perusahaan perjalanan wisata, industri kuliner, serta bidang kewirausahaan. Hal ini menunjukkan luasnya peluang pengembangan karier bagi lulusan di sektor pariwisata dan industri terkait.

Wisuda ke-57 Institut Pariwisata Trisakti bukan sekadar penanda berakhirnya perjalanan akademik, melainkan awal bagi para lulusan untuk menerapkan ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai profesional dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.

Sejalan dengan visi Center of Excellence in Tourism through Sustainable Learning, Education, Research, and Community Service, Institut Pariwisata Trisakti terus berupaya menjadi pusat unggulan pendidikan pariwisata melalui pembelajaran, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan.

Melalui momentum wisuda ini, para lulusan diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia yang profesional, inovatif, berintegritas, serta adaptif terhadap transformasi digital dan dinamika industri pariwisata. Mereka juga diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam memajukan pariwisata Indonesia, memperkuat daya saing bangsa, dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat.
Redaksi