Sesi talkshow
Jakarta — 25 November 2025, Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti acara Apresiasi Mitra Sekolah & Kerja Sama Institut Pariwisata Trisakti 2025 yang digelar oleh Institut Pariwisata Trisakti di Parle, Senayan, Jakarta (25/11). Dengan mengusung tema “Kiprah Guru dalam Menyiapkan Generasi Pariwisata Global”, kegiatan ini menghadirkan rangkaian talkshow, cooking demo, dan sesi apresiasi bagi para guru yang menjadi mitra penting dalam pembangunan pendidikan Indonesia.

Acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum refleksi bahwa guru tetap menjadi pilar utama dalam melahirkan sumber daya manusia unggul di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, demikian sambutan dari Wakil Rektor III Institut Pariwisata Trisakti, Novita Widyastuti . “Peran guru semakin penting di tengah cepatnya perubahan dunia pendidikan dan industri pariwisata. Hari Guru Nasional adalah momentum menyadari betapa penting peran guru membangun masa depan Indonesia. Guru tetap menjadi pilar utama yang menjaga proses pendidikan berjalan penuh makna. Semoga pertemuan ini menjadi ruang penguatan demi lahirnya SDM unggul,” ujar Novita.

Novita juga berterima kasih kepada para sponsor yang telah mendukung acara ini seperti PT. Parle Boga Nusantara, Artotel Group, Bernardi, Koepoe-Koepoe, Belibis, Senfienta, Lactasoy, T3 Premium Tea, Flavorlab dan ICMI Travel..
Pesan senada juga datang dari Tuti Sukarni Guru Bimbingan Konseling yang juga menjabat Ketua Pusat Divisi IBKS, yang menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental siswa. “Institut Pariwisata Trisakti dengan perhatiannya terhadap pendidikan pariwisata sangat kita apresiasi. Karena itu kami para guru berharap dapat terus berkolaborasi dengan IP Trisakti untuk mencetak generasi insan pariwisata berdaya saing global,” tegasnya.

Sementara Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat, Ade Riswanto, mengapresiasi langkah Institut Pariwisata Trisakti yang menggandeng para guru dalam perayaan Hari Guru Nasional.
“Tanpa guru, sekolah hanyalah gedung kosong. Guru menginspirasi murid untuk mencintai bangsa melalui pariwisata—dimulai dari ruang kelas, dari imajinasi yang dipantik oleh seorang guru,” ujarnya.
Ade menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi pariwisata lengkap—laut, pantai, gunung, desa, dan budaya—yang bisa menjadi ruang belajar sekaligus kebanggaan bagi siswa.

Ia menilai kerja sama dengan guru BK sebagai langkah tepat, mengingat industri pariwisata “tidak akan pernah mati”. “Karena itu acara ini sangat relevan membahas character building dan career path di industri pariwisata,” tutupnya.
Pandangan strategis turut disampaikan oleh Siam Wahyuni, Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekraf Kementerian Ekonomi Kreatif RI. Siam mengungkapkan bahwa anak muda kini lebih menyukai pekerjaan yang cepat menghasilkan, dan sektor ekonomi kreatif menawarkan peluang besar. “Ekonomi kreatif membuka kesempatan bagi lahirnya lapangan kerja berkualitas. Ada 17 subsektor, dari seni rupa, game, aplikasi, hingga seni pertunjukan. Anak membuat game saja cuannya lumayan,” ujarnya.

Siam menambahkan bahwa ekonomi kreatif menjadi mesin pertumbuhan baru. Tengok saja, hingga November 2025, nilai investasi sektor ini mencapai Rp90,12 triliun, atau 136% dari target 2025, sementara jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 26,47 juta orang.
Adapun ekonomi kreatif dan pariwisata, sambung Siam, merupakan dua sektor yang saling menguatkan, seperti yang terbukti di Jepang, Korea, dan negara-negara maju lainnya. Karena itu, tegas Siam, kedua sektor ini wajib berjalan beriringan agar saling menunjang satu sama lain.

Pada sesi talkshow yang dipandu Dekan Akademik IPT, Soerya Fadjar Boediman, para narasumber dari industri berbagi perspektif tentang kompetensi generasi muda di dunia pariwisata.

Adapun Antonius Adi Kristanto, Direktur Utama Parle Senayan dalam pemaparannya menekankan pentingnya kemampuan berkolaborasi SDM pariwisata masa kini. “Pintar saja tidak cukup. Jika tidak bisa bekerja sama, akan sulit bertahan. Industri hospitality tidak bisa menerima sikap arogan,” ujarnya.
Menurutnya, pekerja di industri pariwisata harus memiliki mentalitas baik, mau belajar hal baru, dan jujur. “Kejujuran itu utama. Banyak barang tamu tertinggal, jadi kalau tidak jujur akan sulit,” jelasnya.
Dari sudut pandang pengembangan kompetensi kreatif, Desy Sulistyorini, Founder & CEO PT Nusantara Inti Solusindo sekaligus praktisi Certified Lego Serious Play, menjelaskan mengenai metode Lego Experential Learning yang sangat relevan bagi dunia pariwisata.
“Lego Serious Play melatih creative thinking, problem solving, kolaborasi, dan self-awareness. Semua ini kompetensi yang dibutuhkan SDM pariwisata global,” jelasnya.
Adapun Wakil Rektor I IPT, Agus Riyadi, menegaskan komitmen institusi dalam memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dan kolaborasi industri.
“Guru adalah mitra kami dalam menyiapkan generasi pariwisata global. Kami ingin memastikan peserta didik memiliki karakter unggul, wawasan global, serta etos kerja yang kuat,” katanya.
Acara ini menjadi bukti eratnya kolaborasi antara IPT Trisakti, para guru, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan industri. Dari ruang diskusi, cooking demo, hingga sesi apresiasi, seluruh rangkaian acara seolah menegaskan pesan besar bahwa Guru selain pendidik, sekaligus penyulut mimpi bagi generasi yang kelak membawa pariwisata Indonesia ke panggung dunia.
Dengan optimisme menuju Indonesia Emas 2045, agenda ini menjadi pijakan kokoh untuk melahirkan SDM pariwisata yang kreatif, berkarakter, dan berdaya saing global.
Redaksi