18/04/2026
WhatsApp Image 2025-12-11 at 09.58.29

Suasana Gala Dinner Aceh Gala Night Institut Pariwisata Trisakti.

Jakarta — Restoran Arimbi, Institut Pariwisata Trisakti, menjadi panggung kreativitas kuliner mahasiswanya. Sebagai bagian dari rangkaian Ujian Akhir Semester (UAS), 160 orang mahasiswa IP Trisakti angkatan 2024 pada Rabu, 10 Desember 2025 kemarin menghadirkan “Aceh Gala Night”, sebuah pop up dinner bertema gastronomi Nusantara yang menyatukan keterampilan pastry, kitchen, dan restaurant service dalam satu pengalaman makan malam yang mewah, penuh cerita, dan sarat pembelajaran nyata.

Suasana Gala Dinner Aceh Gala Night Institut Pariwisata Trisakti.

Berbagai menu dari hidangan pembuka, sajian utama hingga penutup dan minuman pun menggunakan beragam rempah yang dekat dengan budaya kuliner Aceh. Berbagai menu yang diusung malam itu mencakup hidangan pembuka berupa Ikan Asap Tartlet, Tahu Goreng Aceh, Sup Khanduri Pasta Pliek U, sajian utama Ayam Masak Merah with Nasi Rempah Kaca Kace and Tumis Sayur Aceh, dan hidangan penutup Kue Ade dan Kue Jala. Tak ketinggalan minuman dingin dengan rempah segar turut disajikan, Cinnamon Breeze dan Red Spice Cooler. Semuanya disajikan mewah layaknya fine dining di hotel bintang lima.

Main course Ayam Masak Merah with Nasi Rempah Kaca Kace and Tumis Sayur Aceh.

Kepala Program Studi Perhotelan Institut Pariwisata Trisakti Robiatul Adawiyah menjelaskan, acara ini merupakan bagian dari program inovatif yang kini dikembangkan di Program Studi Perhotelan. “Jadi kami hendak membuat sebuah terobosan yang mengubah format ujian tradisional menjadi pengalaman dunia nyata menjadi sebuah simulasi industri yang menuntut kemampuan komprehensif mahasiswa dari hard skill, soft skill, hingga contingency skill dan knowledge. Tujuan akhirnya, ketika lulus, mahasiswa dapat menjadi leader atau owner baik memimpin tim dapur maupun membuka lapangan kerja bagi orang lain,” jelas Adawiyah.

Kepala Program Studi Perhotelan Institut Pariwisata Trisakti Rabiatul Adawiyah.

Adapun tema tahun ini mengangkat kekayaan kuliner dari berbagai daerah antara lain Aceh, Riau, Sumbar, Lampung, Bangka Belitung, hingga Bengkulu. Setiap hidangan tidak hanya disajikan penuh kenikmatan, tetapi juga dibalut dengan aspek story telling tentang sejarah, bahan lokal, nilai budaya, dan filosofi masakannya. “Kami ingin mahasiswa bangga dengan identitas kulinernya. Gastronomi Indonesia itu kaya, bergizi, penuh cerita. Mereka harus paham bukan hanya bagaimana memasaknya, tapi mengapa hidangan itu penting,” terang Adawiyah.

Mahasiswa Institut Pariwisata Trisakti tengah menyiapkan hidangan.

Alhasil, selama delapan hari, mulai 1–4 Desember dan berlanjut 8–11 Desember 2025, sekitar 160 mahasiswa tampil secara bergiliran dalam tiga tim: pastry, kitchen, dan restaurant service. Mereka menyajikan hidangan Nusantara dalam format fine dining, sebuah tantangan besar untuk menguji kreativitas para mahasiswa.  “Ini pop up dinner kedua sejak 2023. Saya ingin mahasiswa merasakan pengalaman nyata menghadapi tamu, bekerja dalam tekanan, dan mengeluarkan kreativitas terbaik mereka. Mereka tidak hanya dinilai dari rasa, tapi dari kemampuan bekerja sama, menghadapi masalah nyata, hingga menjelaskan story telling makanan Nusantara,” Adawiyah menambahkan.

Mahasiswa Institut Pariwisata Trisakti tengah menjalani ujian praktik langsung restaurant service dalam acara Gala Dinner Aceh Gala Night.

Untuk kian mendekatkan ujian ini dengan realita, paket reservasi benar-benar dijual untuk umum dengan harga Rp100 ribu per paket. Para tamu yang hadir bukan hanya orang tua dan keluarga mahasiswa, tetapi juga rekan industri, sponsor, hingga pimpinan kampus yang ikut mencicipi langsung karya mereka.

Kemampuan  mahasiswa menghadapi situasi tak terduga pun ternyata benar diuji. Pasalnya, pada minggu pertama acara terjadi peristiwa overbooking reservasi akibat miskomunikasi. “Tamu sudah datang, ternyata kelebihan pesanan. Akhirnya para mahasiswa berkoordinasi dengan tim kitchen untuk menambah pax, menyesuaikan ritme servis, dan memastikan semua tamu tetap nyaman. Situasi ini menunjukkan kemampuan inti yang dibutuhkan di industri: contingency skill, yaitu refleks mengatasi masalah secara terukur dan kolaboratif,” ungkap Adawiyah.

Perwakilan sponsor dan pelaku industri, Bram Adiprasetya dari PT Anggana Catur Prima produsen merek Koepoe-Koepoe dan Dua Belibis, memuji konsep acara ini sebagai bentuk pelatihan nyata bagi calon profesional muda pariwisata. “Acara ini sangat menarik dan penting. Ini membiasakan mahasiswa untuk siap masuk industri.” ujarnya. Dirinya pun bersemangat mengikuti acara ini. “Kami berupaya kian mendekatkan merek kami dengan segmen anak muda, para mahasiswa ini sehingga  mereka mengenali dan familier dengan brand kami,” jelasnya.

Perwakilan sponsor dan pelaku industri, Bram Adiprasetya dari PT Anggana Catur Prima produsen merek Koepoe-Koepoe dan Dua Belibis.

Dukungan juga datang dari orang tua, termasuk Pipit Novita, pengusaha catering Tirta Catering di Tangerang sekaligus ibu dari Adi Hakim, mahasiswa yang tengah mengikuti event tersebut. “Menunya enak-enak, dari appetizer sampai dessert. Sajian Aceh yang biasanya dinikmati sederhana, kini disajikan secara fine dining, jadinya sangat menarik,” katanya. Ia berharap pengalaman ini memperkaya wawasan anak-anak sebelum terjun ke dunia kerja atau menjadi pengusaha.

Pipit Novita, pengusaha catering Tirta Catering di Tangerang sekaligus ibu dari Adi Hakim, mahasiswa yang tengah mengikuti ujian.

Salah satu peserta ujian, Hayra Aprilia mahasiswi D4 Perhotelan berbagi pengalamannya bertugas sebagai bartender. Ia menciptakan signature mocktail “Red Spice Cooler”, perpaduan mango tea, grenadine, serai, dan lime yang menjelma jadi minuman segar beraroma rempah yang berpadu harmonis dengan hidangan Aceh. “Ini benar-benar pengalaman baru. Kami melayani tamu seperti di dunia kerja. Setelah ini, saya merasa lebih siap untuk magang maupun bekerja langsung,” ungkapnya.

Hayra Aprilia dengan mocktail kreasinya, Red Spice Cooler.

Melihat dari semarak acara ini dari hari pertama, Adawiyah pun sudah bersiap dengan inovasi program berikutnya. “Ke depan, kami ingin membuat pop up dinner di luar kampus bekerja sama dengan venue eksternal. Kami ingin mahasiswa terjun langsung, kreasi mereka dijual, dan dipertemukan dengan pasar yang lebih luas,” ujarnya penuh harap.

Mahasiswi Institut Pariwisata Trisakti tengah menerangkan latar belakang sajian kuliner yang tengah dinikmati para tamu.

Dengan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang terus diasah, mahasiswa perhotelan IP Trisakti dipersiapkan bukan hanya untuk bekerja di industri, tetapi menjadi bagian dari generasi baru pelaku kuliner Indonesia, yang kreatif, percaya diri, dan bangga pada kekayaan Nusantara.

Redaksi