Suasana Penandatanganan MoU antara Institut Pariwisata Trisakti dengan Pemerintah Timor Leste (22/04).
Insititut Pariwisata Trisakti kembali mengukuhkan diri sebagai center of excellence pengembangan SDM pariwisata internasional. Hal ini ditempuh melalui momen Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Institut Pariwisata Trisakti dengan Centro Nacional de Formação Profissional (CNFP) Senai-Becora, Timor Leste, lembaga pelatihan kejuruan nasional dari Timor-Leste, hari ini (22/04).

Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di kampus Institut Pariwisata Trisakti di Bintaro, Jakarta Selatan itu menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengembangan kompetensi tenaga kerja pariwisata Timor Leste. Terkhusus di bidang hospitality, food and beverage (F&B), serta manajemen destinasi wisata melalui pendidikan di Institut Pariwisata Trisakti. Acara tersebut turut dihadiri oleh General Coordinator of the Vice-Prime Minister (MCAE) Timor Leste Jorge R. De Carvalho Martins, Executive Director CNFP Bernardete P. Miranda Gomes, Head of Training Departmenet Basilio Basilio M. Freitas, Technical Professional staff Tonysio I. Caetano, Finance and Procurement Tarcisio Mendonca Tallo, dan tim media Lino Da Silva Araujo. First Secretary Embassy of Timor Leste Claudia Soares turut hadir untuk mendukung kerjasama tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Jorge R. De Carvalho Martins menegaskan bahwa pengembangan SDM menjadi salah satu prioritas utama pemerintah Timor Leste dalam agenda pembangunan nasional. Menurut Jorge, peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi sangat penting seiring komitmen Timor Leste untuk memperkuat integrasi ekonomi regional, termasuk rencana keanggotaan penuh dalam organisasi perdagangan global dan kawasan. “Pengembangan sumber daya manusia merupakan kunci pembangunan ekonomi di Timor Leste. Kami memprioritaskan sektor pariwisata, pertanian, dan industri manufaktur dalam strategi pembangunan nasional. Untuk pariwisata, kami mempercayakan penguatan kapasitas SDM pariwisata Timor Leste kepada Institut Pariwisata Trisakti karena reputasi dan pengalaman yang telah terbukti,” ujar Jorge.

Ia menjelaskan bahwa Timor Leste tengah mengembangkan konsep pariwisata berbasis ekologi dan komunitas. Pendekatan ini dinilai paling sesuai dengan karakter alam dan masyarakat setempat. “Strategi kami adalah mengembangkan eco-tourism dan community tourism. Kami ingin pariwisata berkembang tanpa merusak alam dan tetap memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal,” katanya.

Selain itu, pemerintah Timor Leste juga mulai mendorong pengembangan adventure tourism melalui berbagai kegiatan seperti mountain hiking serta event olahraga internasional seperti Dili Marathon dan Dili 10K untuk menarik wisatawan pencinta alam.
Namun demikian, menurut Jorge, sektor hospitality masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan industri pariwisata Timor Leste. “Hospitality dan layanan F&B menjadi salah satu tantangan besar. Tanpa peningkatan kualitas layanan tersebut, akan sulit bagi Timor Leste bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Basilio M. Freitas menegaskan bahwa Centro Nacional de Formação Profissional (CNFP) Senai-Becora, Timor-Leste merupakan pusat pelatihan profesional yang tangguh, berkelanjutan, dan responsif dalam mendukung pengembangan sosial ekonomi negara. Sebagai pusat pelatihan terbesar di Timor-Leste, CNFP menyelenggarakan program teknis yang berkualitas, inovatif, dan inklusif, sekaligus menjamin keberlanjutan serta membuka kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk berpartisipasi.
Program pelatihan di CNFP terbagi dalam dua kategori utama, yaitu konstruksi umum dan non-konstruksi. Bidang pariwisata dan hospitality termasuk dalam kategori non-konstruksi, yang menjadi salah satu fokus penting dalam pengembangan sumber daya manusia di sektor pariwisata. Untuk meningkatkan kualitas master trainer di bidang tersebut, CNFP bekerja sama dengan Institut Pariwisata Trisakti (IPT) dengan mengirimkan trainer terbaik mereka untuk mengikuti pelatihan intensif selama satu bulan dalam bidang restaurant service, pastry/bakery, dan housekeeping.
Dalam kegiatan ini, para peserta dibimbing secara intensif oleh tim dosen IPT yang berpengalaman sebagai juri pada ajang Asian Skills dan World Skills Competition, serta telah berkompetensi sebagai asesor BNSP. Selain pembelajaran teori dan praktik di kampus, peserta juga memperoleh pengalaman langsung (hands-on skill) dari industri perhotelan terkemuka di Jakarta, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dan profesionalisme mereka sesuai standar internasional.
Rektor Institut Pariwisata Trisakti, Fetty Asmaniati, menyatakan kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen institusinya untuk memperkuat peran pendidikan pariwisata Indonesia di tingkat global. Menurut dia, kolaborasi tersebut juga sejalan dengan visi kampus untuk menjadi pusat keunggulan pendidikan pariwisata yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan industri pariwisata regional. “Kerja sama ini menunjukkan bahwa pendidikan pariwisata Indonesia memiliki peran strategis dalam pengembangan SDM pariwisata di kawasan. Kami berharap kolaborasi ini dapat menghasilkan tenaga profesional yang kompeten dan mampu bersaing di tingkat regional maupun internasional,” kata Fetty.

Fetty menambahkan bahwa pertukaran pengetahuan, pelatihan profesional, serta pengembangan kurikulum bersama akan menjadi fokus dalam implementasi kerja sama tersebut.
Sementara itu, Dekan Fakultas Vokasi Institut Pariwisata Trisakti, Amrullah, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk memperkuat kampusnya sebagai pusat pengembangan pendidikan pariwisata bertaraf internasional. “Kerja sama ini bukan sekadar penandatanganan dokumen. Kami ingin membangun program yang berkelanjutan, mulai dari pelatihan, pengembangan kompetensi hingga peningkatan kapasitas SDM, termasuk bagi pegawai pemerintah Timor Leste,” ujar Amrullah.

Ia menuturkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, sejumlah peserta dari Timor Leste telah mengikuti berbagai program pelatihan dan kursus profesional di kampus tersebut. Menurut Amrullah, Timor Leste memiliki potensi wisata alam yang sangat besar, mulai dari pantai hingga kawasan pegunungan, namun masih membutuhkan percepatan dalam pengembangan sektor pariwisata. “Melalui kerja sama ini diharapkan pengembangan pariwisata di Timor Leste dapat dipercepat, terutama melalui peningkatan kualitas SDM,” katanya.
Bagi Institut Pariwisata Trisakti, kolaborasi internasional semacam ini juga menjadi bagian dari strategi memperluas peran Indonesia dalam pengembangan pendidikan dan industri pariwisata di tingkat global.
Melalui kemitraan tersebut, diharapkan lahir tenaga kerja pariwisata yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki standar profesional yang mampu bersaing di pasar regional ASEAN dan internasional.
Redaksi