istimewa
Di media sosial pada Jumat 6 Agustus 2021 kemarin diramaikan dengan dugaan Lion Air mengembalikan pesawatnya ke pihak lessor. Dugaan itu muncul akibat terdapat pergerakan di aplikasi FlightRadar24 pada hari tersebut bahwa ada 6 pesawat yang terbang beriringan ke Australia dengan tujuan Alice Springs Aiport di Northern Teritory, Australia. Rute dan tujuan akhir keenam pesawat tersebut rupanya dinilai sama dengan saat Garuda Indonesia mengembalikan 9 pesawatnya pada Rabu 6 Agustus 2021, juga ke pihak lessor, dus hal itu menjadi pangkal dugaan warganet.

Setelah sempat bungkam, akhirnya kemarin, Sabtu 7 Agustus 2021, Lion Air Group mengakui secara resmi bahwa pihaknya memang benar mengembalikan ke enam pesawatnya ke pihak lessor di bandara Alice Springs. Penyebabnya mudah ditebak, pandemic Covid-19.
Ya, badai pandemi yang efeknya mengekang hebat semua pergerakan manusia di darat, air hingga udara telah memukul telak bisnis penerbangan sedunia. Tak terkecuali Garuda Indonesia dan Lior Air Group. Dampaknya bisa dibilang seluruh maskapai di dunia harus melakukan efisiensi habis-habisan, salah satunya dengan mengembalikan pesawat ke pihak lessor.
Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro menjelaskan Lion Air Group mengoperasikan pesawat udara melalui 2 (dua) skema atau pola. Pertama: finance lease yakni sewa beli. Kedua, operating lease, yaitu sewa pesawat udara. “Selama pengoperasian pesawat udara, Lion Air Group sangat menghormati perjanjian yang telah disepakati dalam kontrak, dengan menjalankan seluruh kewajiban pembayaran dan pemeliharaan pesawat udara (maintenance),” urai Danang dalam keterangannya yang diterima Liputama.com pada Sabtu 7 Agustus 2021.
Danang menjelaskan, kondisi dan situasi masa waspada pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), di luar kemampuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu Lion Air Group melakukan adaptasi yang berdampak ke bisnis, salah satunya restrukturisasi dengan pihak atau mitra Lion Air Group. “Keputusan ini, digunakan untuk melakukan perbaikan yang tujuan akhirnya adalah memperbaiki serta memaksimalkan kinerja yang dijalankan perusahaan. Lion Air Group sangat perlu melakukan evaluasi kinerja dan melakukan perbaikan agar tetap tumbuh dan dapat bersaing. Dari 299 armada (pesawat udara) yang dioperasikan baik skema finance lease maupun operating lease, terdapat 6 (enam armada) yang dikirim ke Alice Spring, Australia, lokasi yang disepakati bersama lessor,” urai Danang.
Keputusan tersebut mengemuka dengan sejumlah pertimbangan. Antara lain:
- Lion Air Group sudah melakukan negosiasi dengan semua mitra, 90% ada kesepakatan serta solusi terbaik ditengah masa waspada pandemi Covid-19.
- Lion Air Group menilai (menurut hemat kami) tepat dan menjadi salah satu solusi terbaik, mengingat kondisi pasar (market)yang ada saat ini mengalami penurunan sehingga perlu mengurangi jumlah pesawat udara.
- Memberikan dampak lebih efisien serta mampu menyesuaikan kapasitas angkut penumpang dan kargo.
- Mendukung operasional dan kinerja Lion Air Group, karena setelah proses direstrukturisasi, biaya mengalami penurunan.
Danang menambahkan, pihaknya senantiasa menghormati berbagai sikap yang diambil atas keputusan berdasarkan prosedur dan ketentuan berlaku sejalan mengutamakan asas profesionalitas bisnis (corporate to corporate) yang telah terjalin selama ini. “ Lion Air Group memastikan operasional dan layanan penerbangan tetap dijalankan sesuai permintaan pasar dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan dan sesuai pedoman protokol kesehatan,” papar Danang.
Selain itu, pesawat udara yang ada dan belum dioperasikan tetap dilakukan proses perawatan pesawat udara dan pengerjaan lain berdasarkan standar operasional prosedur. “Hal ini memastikan dan dipersiapkan bahwa seluruh armada dinyatakan layak dan aman diterbangkan (airworthiness for flight). Lion Air Group optimis, pasar penerbangan di Indonesia (pasar domestik) masih ada dan akan terus tumbuh mendatang,” Danang memungkas penjelasannya.
Eddy Dwinanto Iskandar
@bungiskandar